Berita  

H. Pujiyanto Aktivis Muda Banten ||Sejarah Bangsa Mengajarkan Bahwa Mahasiswa Selalu Menjadi Garda Depan Perubahan

H. Pujiyanto Aktivis Muda Banten ||Tragedi Affan Harus Menjadi Titik Balik Rakyat Kecil Harus di Lindungi Bukan Dikorbankan


BANTEN publisistiknews.id – H. Pujiyanto Aktivis Muda Banten, Putra Goib mengatakan Empat hari terakhir bangsa ini diguncang gelombang besar. Jalanan Senayan kembali bergemuruh oleh suara mahasiswa, spanduk kembali berkibar, orasi kembali menggema, dan aparat kembali berbaris mengawal. Namun dari semua keramaian itu, ada satu tragedi yang menghantam nurani kita bersama: seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, tewas terlindas mobil aparat di tengah kericuhan. Affan bukan aktivis, bukan tokoh, bahkan bukan orang yang mencari panggung. Ia hanya anak muda sederhana yang bekerja untuk keluarga, namun pulang dalam keadaan terbujur kaku.

Kita semua berduka. Saya pribadi menyampaikan simpati mendalam bagi keluarganya. Tragedi ini bukan sekadar insiden lalu lintas, ini adalah tanda bahwa ada yang salah dalam cara negara menjaga warganya. Nyawa rakyat kecil sering kali menjadi korban di tengah hiruk pikuk politik elit. Di sinilah kita perlu kembali bertanya: ke mana arah pergerakan mahasiswa dan rakyat harus dibawa?

Sejarah bangsa mengajarkan bahwa mahasiswa selalu menjadi garda depan perubahan. Dari tahun 1966 hingga 1998, dari kampus ke jalan raya, mahasiswa membuktikan diri sebagai kekuatan moral yang menekan kekuasaan agar kembali pada rakyat. Namun sejarah juga mencatat, setiap kali gelombang besar muncul, selalu ada tangan-tangan yang mencoba menunggangi. Ada elit yang melihat darah mahasiswa sebagai tiket menuju kursi, ada kelompok yang meniupkan api bukan untuk menerangi jalan, melainkan untuk membakar persatuan.

Kembali Ke Masalah Utama, Wakil Rakyat Sumber Masalah.

Karena itu saya ingin menegaskan: sasaran utama pergerakan hari ini harus jelas, yaitu DPR RI. Parlemen adalah rumah rakyat, dan kalau rakyat marah, di sanalah mereka harus mengetuk pintu. Kalau mahasiswa ingin menuntut perubahan, di sanalah orasi harus diarahkan. DPR bukan sekadar simbol, tapi tempat semua keputusan politik bangsa ini dilahirkan. Kalau mereka tuli, kalau mereka pura-pura tidak dengar, maka rakyat berhak mengetuk lebih keras.

Namun di balik fokus itu, ada hal yang sama pentingnya: menjaga agar gerakan ini tetap murni. Jangan biarkan energi mahasiswa dan rakyat yang tulus dipelintir oleh kepentingan sempit. Saya melihat gelagat bahwa ada kelompok yang berusaha menunggangi, yang berusaha menjadikan momentum ini sebagai batu loncatan politik. Mereka masuk dengan spanduk, dengan orasi, dengan provokasi, bahkan dengan narasi yang manis di media sosial. Padahal tujuannya bukan membela rakyat, melainkan meraih kekuasaan.

Kita tidak boleh lupa, bangsa ini pernah hancur karena perpecahan. Sejarah kelam selalu dimulai dari adu domba. Musuh kita bisa saja punya uang, senjata, bahkan media, tapi selama rakyat dan mahasiswa bersatu, mereka tidak bisa mengalahkan kita. Persatuan adalah senjata kita yang paling ampuh. Dan persatuan itu hanya bisa dijaga kalau kita berpegang pada tujuan: menegakkan keadilan, melindungi rakyat kecil, memastikan kekuasaan berpihak pada bangsa, bukan pada segelintir elit.

Tragedi Affan harus menjadi titik balik, bukan sekadar berita satu minggu. Ia harus jadi pengingat bahwa aparat tidak boleh lagi sewenang-wenang, dan bahwa rakyat kecil harus dilindungi, bukan dikorbankan. Tapi tragedi ini juga jangan dijadikan alasan untuk mengalihkan seluruh energi hanya pada kemarahan kepada aparat. Ingatlah, aparat hanyalah tangan. Kepala dari semua ini ada di parlemen. Kalau DPR bekerja dengan benar, kalau mereka mengawasi dengan sungguh-sungguh, tragedi seperti ini bisa dicegah.

Saya mengatakan ini bukan untuk mencari nama. Saya menulis karena saya tidak rela melihat bangsa ini kembali terpecah, tidak rela melihat mahasiswa yang idealis diperalat, dan tidak rela melihat rakyat kecil jadi korban dari permainan besar yang tak pernah mereka pahami. Saya ingin mengajak mahasiswa dan rakyat: teruslah bergerak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *